Samarinda, 22 Oktober 2026 — Perkembangan teknologi di era digital tidak hanya menuntut kecakapan kognitif, tetapi juga keseimbangan emosional dan spiritual dalam proses pembelajaran. Kesadaran ini menjadi landasan utama bagi Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman (UNMUL) dalam menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Pembelajaran Fisika Berbasis Kecerdasan Emosional-Spiritual di Era Digitalisasi”. Kegiatan ini bertempat di ruang GB 25 FKIP UNMUL sebagai wadah diskusi strategis untuk merespons tantangan pendidikan sains modern.
Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Zeni Haryanto, M.Pd., selaku Koordinator Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UNMUL. Beliau menekankan pentingnya membekali calon pendidik dengan fondasi karakter yang kuat agar tidak tergerus oleh disrupsi teknologi saat menyampaikan kata-kata sambutan. Kuliah umum ini dirancang secara khusus untuk memperkaya wawasan dan kompetensi pedagogik para mahasiswa Pendidikan Fisika, khususnya angkatan 2025 dan 2026 yang turut hadir memenuhi ruangan.
Pihak penyelenggara menghadirkan narasumber pakar secara virtual melalui aplikasi Zoom, yakni Dr. Suyidno, M.Pd., yang menjabat sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), sebagai wujud kolaborasi akademik antarperguruan tinggi.Beliau mengupas tuntas cara mengintegrasikan kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) secara praktis ke dalam pembelajaran fisika yang semakin terdigitalisasi. Pemateri memaparkan konsep bahwa kecanggihan teknologi sejatinya hanyalah alat bantu. Esensi pendidikan tetap terletak pada empati, ketangguhan mental, dan nilai-nilai luhur yang ditransfer oleh seorang guru kepada peserta didiknya.

Materi kuliah umum mengenai indikator kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) yang disampaikan dalam kegiatan Pembelajaran Fisika Berbasis Kecerdasan Emosional-Spiritual di Era Digitalisasi
Antusiasme peserta memuncak pada sesi diskusi interaktif di penghujung acara. Keterlibatan aktif mahasiswa terlihat dari diskursus kritis yang dibangun melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Ridho dan Muhammad Mahrus Dani. Kedua mahasiswa tersebut menyoroti problematika etis terkait cara mengatur batasan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam ranah penyelesaian masalah fisika agar tetap selaras dengan tema utama.

Mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP UNMUL berpartisipasi aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran fisika.
Diskusi interaktif ini memantik pembahasan mendalam tentang posisi mahasiswa dan pendidik fisika saat ini. Pemanfaatan AI sangat dianjurkan untuk meningkatkan efisiensi dalam analisis data dan simulasi. Penggunaan teknologi ini harus tetap diimbangi dengan integritas akademis serta ketajaman intuisi keilmuan yang bersumber dari kecerdasan emosional dan spiritual. Kuliah umum ini berhasil menegaskan fakta bahwa transformasi digital yang masif tetap membutuhkan sentuhan humanis manusia untuk mencetak pendidik fisika masa depan yang adaptif dan berkarakter unggul.
berita Dani